Rabu, 09 Desember 2015

Unsur/komponen Drama

A.    Pengertian Apresiasi Drama
Drama berasal dari bahasa yunai “Dramoi” yang sama dengan “to act” (bahasa inggris) artinya bergerak atau berbuat. Istilah lain untuk drama adalah sandiwara, tonil, lakon. Jadi, drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan. Pementasan drama biasa disebut juga dengan teater. Jadi, drama mencakup dua hal, yaitu drama sebagai karya sastra dan drama sebagai sebuah pementasan.
Pementasan drama merupakan gabungan antara seni sastra dan seni pertunjukan. Drama pada awalnya ditulis dalam bentuk naskah atau teks. Naskah tersebut kemudian dijadikan sebuah pementasan.
Apresiasi adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Effendi, 2002). Kata menggauli atau mengakrabi biasanya berkaitan dengan hubungan sosial, misalnya kita berusaha mempererat hubungan dengan teman atau tetangga baru. Oleh sebab itu, apresiasi sastra pun seyogianyalah apabila dipahami sebagai usaha mempererat hubungan antara kita sebagai pembaca karya sastra dan karya sastra itu sendiri sehingga terjalin hubungan yang bersifat emosional, imajinatif, dan intelektual. Jadi, Apresiasi drama yaitu kegiatan menggauli, memberi penghargaan terhadap suatu karya sastra yang berbentuk drama atau memberikan penghargaan terhadap pementasan drama.
B.     Komponen-komponen pembangun pementasan drama
1.      Naskah
Naskah drama merupakan karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur pembangun. Naskah drama mencakup cerita yang ditulis dalam bentuk dialog dan berisi lakon hidup tokoh-tokohnya. Naskah drama memberikan gambaran pementasan yang akan dilakukan, seperti tema, amanat, tokoh-tokoh yang terlibat, dialog antartokoh, jalan cerita yang dibangun, latar yang digunakan, dan lain sebagainya.
Permainan drama dibagi dalam babak demi babak. Setiap babak mengisahkan perstiwa tertentu. Peristiwa itu terjadi di tempat tertentu, dalam waktu tertentu, dan suasana tertentu pula. Dengan pembagian seperti itu, penonton memperoleh gambaran yang jelas bahwa setiap peristiwa berlangsung di tempat, waktu, dan suasana yang berbeda.
Untuk memudahkan para pemain drama, naskah drama ditulis selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi percakapan, melaikan juga disertai keterangan atau petunjuk. Petunjuk itu, misalnya gerakan-gerakan yang dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda peralatan yang diperlukan setiap babak, dan keadaan panggung setiap babak.
  1. Sutradara
    Sutradara adalah orang yang berperan penting dan memiliki tanggung jawab paling besar dalam pementasan drama. Seorang sutradara bertugas memilih naskah drama yang layak untuk dipentaskan, memilih pemain yang sesuai dengan karakter tokoh dalam drama, menentukan tata panggung, tata rias, dan tata busana yang akan digunakan dalam pementasan. Tugas utama sutradara yang lainnya adalah mengarahkan seluruh jalan cerita, termasuk adegan yang dilakukan oleh pemain.
  2. Pemain
    Pemain adalah orang yang memeragakan seluruh lakon dalam drama. Pemain menirukan seluruh cerita yang dialami tokoh dalam naskah drama. Banyaknya pemain dalam pementasan drama bergantung pada banyaknya tokoh. Namun demikian, sutradara berhak menambah atau mengurangi jumlah pemain jika diperlukan.
Dalam pementasan drama, aktor bermain peran dan menunjukkan kebolehannya. Aktor memerankan tokoh cerita dengan karakter tertentu. Seorang aktor dituntut untuk mampu memerankan tokoh cerita tersebut. Keahlian aktor dapat menghadirkan sosok tokoh yang diperankan seperti nyata, baik tingkah laku, dialog, maupun jiwanya. Kekompakan antarpemain sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan. Kepiawaian seorang aktor dalam memerankan seorang tokoh dalam sebuah pementasan drama akan bisa dilihat dari:
a.       Teknik vokal/teknik dialog. Ucapan yang dilontarkan oleh seorang pemeran drama mempunyai peranan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama. Karena dalam dialog sebuah drama banyak terdapat nilai-nilai yang sangat bermakna. Jika lontaran  dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya maka nilai yang terkandung tidak  dapat dikomunikasikan kepada penonton.
b.      Mimik/ekspresi wajah. Penjiwaan yang total dari para pemeran dalam memerankan tokoh yang mereka mainkan akan menjadi kunci penentu keberhasilan sebuah pentas drama.
c.       Gesture/gerak tubuh. Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna dan menimbulkan bahasa tubuh. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh, baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran.
d.      Blocking (penempatan posisi di panggung). Blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas pentas. Blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi, memiliki titik pusat perhatian, dan wajar.
4.      Tata Panggung
Tata panggung adalah penataan panggung sebagai tempat berlangsungnya pementasan drama. Panggung adalah tempat untuk para pemain drama memeragakan cerita atas arahan sutradara. Tata panggung harus disesuaikan dengan latar yang ditulis dalam naskah. Hal tersebut didukung dengan penyediaan alat-alat pendukung yang disebut properti drama. Properti drama dapat berupa benda asli atau benda tiruan yang sengaja dibuat untuk pementasan. Misalnya, jika cerita drama menggambarkan latar hutan, panggung harus dihiasi ornamen hutan seperti pepohonan, bebatuan, dan lain-lain.
5.      Penonton
Penonton termasuk unsur yang penting dalam suatu pementasan. Suatu pementasan tidak
akan dapat berlangsung sempurna jika tidak ada penonton. Penonton biasanya menyesuaikan dengan cerita yang dimainkan dalam drama. Ada pementasan yang ditujukan untuk penonton semua usia atau hanya penonton usia tertentu, seperti anak-anak atau orang dewasa. Kesuksesan sebuah drama biasanya dapat diukur dari banyak-sedikitnya penonton.
6.      Tata Rias
Tata rias adalah penataan riasan (make up) para pemain. Orang yang bertanggung jawab terhadap tata rias adalah penata rias. Tata rias mencakup riasan wajah para pemain agar sesuai dengan jalan cerita. Misalnya, seorang pemain akan memeragakan tokoh orang tua, penata rias harus menjadikan pemain tersebut tampak tua, seperti menambahkan keriput dan kumis palsu.
7.      Tata Busana atau Kostum
Tata busana adalah penataan kostum yang digunakan oleh pemain. Tata busana mencakup baju dan perhiasan yang akan digunakan dalam pemain selama pementasan. Seorang pemain dapat menggunakan satu kostum selama pementasan atau berganti-ganti sesuai adegan. Tata busana harus mendukung cerita yang telah ditulis dalam naskah.
8.      Tata Suara
Tata suara adalah penataan suara dan musik yang digunakan dalam pementasan drama. Orang yang bertanggung jawab terhadap tata suara adalah penata suara. Penata suara harus menentukan keras lembutnya suara para pemain dan musik yang mengiringi pementasan. Iringan musik harus mendukung cerita dalam drama. Misalnya, cerita sedih biasanya dibantu dengan iringan musik seruling yang mendayu-dayu. Musik pengiring dimainkan dibalik layar agar tidak terlihat penonton dan tidak mengganggu para pemain drama. Kekerasan suara juga harus diatur untuk menciptakan permainan drama yang indah.
9.      Tata Lampu
Tata lampu adalah pengaturan cahaya yang digunakan selama pementasan berlangsung. Penataan cahaya di atas panggung harus disesuaikan dengan cerita yang diperankan oleh para tokoh. Misalnya, jika cerita menggambarkan suasana siang, lampu memberikan sorot yang lebih terang dari biasanya.
C.    Komponen-komponen dalam Pembelajaran Apresiasi Drama
1.      Guru
Pengajaran drama atau pengajaran sastra yang ideal mensyaratkan adanya guru atau dosen sastra yang dapat dijadikan model, teladan, contoh, sutradara, bagi peserta didiknya dalam hal ini yang terkait dengan apresiasi drama. Ia dapat membaca puisi dengan baik, membaca cerpen dengan baik, menulis karya sastra dengan baik, rajin menghadiri diskusi-diskusi satra, pembahasan buku sastra baru, pementasan, dan seterusnya. Guru juga dapat mengerti teknik pembelajaran drama, mau latihan drama, dan punya rasa bangga jika dapat mementaskan drama beserta anak didiknya. Rasa bangga ini akan menjadi motivasi utama dlam menanggulangi segala kesulitan yang dihadapi.  Latihan drama memerlukan ketekunan dan kemauan yang kuat, mengorganisasikan siswa yang beraneka ragam latar belakang, memerlukan waktu yang panjang, energi, stamina, dan logistik yang memadai untuk kelangsungan latihan. Seorang guru tidak hanya pandai dalam menyampaikan materi atau teori drama saja namun juga harus mampu memberikan contoh ketika membaca naskah, memerankan peran yang sesuai yang di naskah.
2.      Peserta Didik
Peserta didik juga memiliki peran yang sangat penting untuk menunjang tercapainya pembelajaran apresiasi drama karena peserta didik adalah subjek utama untuk mendapatkan suatu pengetahuan atau ilmu mengenai karya sastra (drama) yang diajarkan oleh guru dan tanpa peserta didik pembelajaran tidak akan berlangsung. Jadi, guru dan peserta didik suatu komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Selain itu, juga diimbangi dengan adanya materi atau teori, metode pembelajaran yang berkenaan dengan materi agar tujuan utama dapat tercapai. Peserta didik dapat dijadikan sebagai pemain (aktor) dalam sebuah pementasan, dalam pembelajaran drama peserta didik harus terlibat secara langsung agar ia mengetahui secara nyatanya bahwa membaca naskah, membuat naskah, hingga memainkan naskah yang dibuat.
3.      Metode Pembelajaran Drama
Pengajaran drama yang ideal mengandaikan dahulu dan berpijak pada pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru atau dosen sastra dapat menggunakan metode role playing, simulasi, dan pendekatan kontekstual. Pembelajaran drama di sekolah dapat didesain sebagai pembelajaran yang menyenangkan. Peserta didik akan selalu menantikan pembelajaran drama ini karena disinilah mereka dapat mengekspresikan seluruh motif. Terlebih jika motif itu sesuai dengan apa yang sedang peserta didik alami dan rasakan. Misalnya, mereka sedang jatuh cinta, patah hati, dendam, bahagia, dan sebagai berikut. Guru tinggal memanfaatkan momentum ini secara bijak. Pembelajaran drama yang ideal mengandaikan penilaian berbasis kinerja, yakni penilaian bagaimana bermain drama yang menyenangkan dan diikiuti latihan drama yang kontinu dan berkesinambungan.
4.      Bahan Ajar
Bahan ajar digunakan sebagai dasar pengetahuan untuk peserta didik. Bahan ajar tidak hanya mencantumkan pengertian, ciri-ciri, dan unsur pembangun drama. Namun seorang guru juga harus mengembangkan bahan ajar. Misalnya, dengan memberikan pengetahuan langkah pembuatan naskah, membaca naskah, dan bagaimana menjadi aktor yang baik serta pengetahuan lain yang bersangkutan dengan drama.
























3 komentar: