A.
Pengertian Apresiasi Drama
Drama berasal dari bahasa yunai
“Dramoi” yang sama dengan “to act” (bahasa inggris) artinya bergerak atau
berbuat. Istilah lain untuk drama adalah sandiwara, tonil, lakon. Jadi, drama adalah
salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis
dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan. Pementasan drama biasa disebut juga
dengan teater. Jadi, drama
mencakup dua hal, yaitu drama sebagai karya sastra dan drama sebagai sebuah
pementasan.
Pementasan drama merupakan gabungan
antara seni sastra dan seni pertunjukan. Drama pada awalnya ditulis dalam
bentuk naskah atau teks. Naskah tersebut kemudian dijadikan sebuah pementasan.
Apresiasi adalah
kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian,
penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap
karya sastra (Effendi, 2002). Kata menggauli atau mengakrabi biasanya berkaitan
dengan hubungan sosial, misalnya kita berusaha mempererat hubungan dengan teman
atau tetangga baru. Oleh sebab itu, apresiasi sastra pun seyogianyalah apabila
dipahami sebagai usaha mempererat hubungan antara kita sebagai pembaca karya
sastra dan karya sastra itu sendiri sehingga terjalin hubungan yang bersifat
emosional, imajinatif, dan intelektual. Jadi, Apresiasi drama yaitu kegiatan
menggauli, memberi penghargaan terhadap suatu karya sastra yang berbentuk drama
atau memberikan penghargaan terhadap pementasan drama.
B.
Komponen-komponen
pembangun pementasan drama
1. Naskah
Naskah drama merupakan karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur pembangun. Naskah drama mencakup cerita yang ditulis dalam bentuk dialog dan berisi lakon hidup tokoh-tokohnya. Naskah drama memberikan gambaran pementasan yang akan dilakukan, seperti tema, amanat, tokoh-tokoh yang terlibat, dialog antartokoh, jalan cerita yang dibangun, latar yang digunakan, dan lain sebagainya.
Naskah drama merupakan karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur pembangun. Naskah drama mencakup cerita yang ditulis dalam bentuk dialog dan berisi lakon hidup tokoh-tokohnya. Naskah drama memberikan gambaran pementasan yang akan dilakukan, seperti tema, amanat, tokoh-tokoh yang terlibat, dialog antartokoh, jalan cerita yang dibangun, latar yang digunakan, dan lain sebagainya.
Permainan drama dibagi dalam babak
demi babak. Setiap babak mengisahkan perstiwa tertentu. Peristiwa itu terjadi
di tempat tertentu, dalam waktu tertentu, dan suasana tertentu pula. Dengan
pembagian seperti itu, penonton memperoleh gambaran yang jelas bahwa setiap
peristiwa berlangsung di tempat, waktu, dan suasana yang berbeda.
Untuk memudahkan para pemain drama,
naskah drama ditulis selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi percakapan,
melaikan juga disertai keterangan atau petunjuk. Petunjuk itu, misalnya
gerakan-gerakan yang dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda
peralatan yang diperlukan setiap babak, dan keadaan panggung setiap babak.
- Sutradara
Sutradara adalah orang yang berperan penting dan memiliki tanggung jawab paling besar dalam pementasan drama. Seorang sutradara bertugas memilih naskah drama yang layak untuk dipentaskan, memilih pemain yang sesuai dengan karakter tokoh dalam drama, menentukan tata panggung, tata rias, dan tata busana yang akan digunakan dalam pementasan. Tugas utama sutradara yang lainnya adalah mengarahkan seluruh jalan cerita, termasuk adegan yang dilakukan oleh pemain. - Pemain
Pemain adalah orang yang memeragakan seluruh lakon dalam drama. Pemain menirukan seluruh cerita yang dialami tokoh dalam naskah drama. Banyaknya pemain dalam pementasan drama bergantung pada banyaknya tokoh. Namun demikian, sutradara berhak menambah atau mengurangi jumlah pemain jika diperlukan.
Dalam pementasan drama, aktor
bermain peran dan menunjukkan kebolehannya. Aktor memerankan tokoh cerita
dengan karakter tertentu. Seorang aktor dituntut untuk mampu memerankan tokoh
cerita tersebut. Keahlian aktor dapat menghadirkan sosok tokoh yang diperankan
seperti nyata, baik tingkah laku, dialog, maupun jiwanya. Kekompakan
antarpemain sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan. Kepiawaian
seorang aktor dalam memerankan seorang tokoh dalam sebuah pementasan drama akan
bisa dilihat dari:
a. Teknik vokal/teknik
dialog. Ucapan yang dilontarkan oleh seorang pemeran drama mempunyai
peranan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama. Karena dalam dialog
sebuah drama banyak terdapat nilai-nilai yang sangat bermakna. Jika lontaran dialog
tidak sesuai sebagaimana mestinya maka nilai yang terkandung tidak dapat
dikomunikasikan kepada penonton.
b. Mimik/ekspresi wajah. Penjiwaan
yang total dari para pemeran dalam memerankan tokoh yang mereka mainkan akan
menjadi kunci penentu keberhasilan sebuah pentas drama.
c. Gesture/gerak tubuh. Gesture
adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna dan menimbulkan
bahasa tubuh. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh, baik bahasa
tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Pemakaian gesture ini
mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara
mengungkapkan perasaan dan pemikiran.
d. Blocking (penempatan posisi di
panggung). Blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas pentas.
Blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi,
memiliki titik pusat perhatian, dan wajar.
4.
Tata Panggung
Tata
panggung adalah
penataan panggung sebagai tempat berlangsungnya pementasan drama. Panggung
adalah tempat untuk para pemain drama memeragakan cerita atas arahan sutradara.
Tata panggung harus disesuaikan dengan latar yang ditulis dalam naskah. Hal
tersebut didukung dengan penyediaan alat-alat pendukung yang disebut properti
drama. Properti drama dapat berupa benda asli atau benda tiruan yang sengaja
dibuat untuk pementasan. Misalnya, jika cerita drama menggambarkan latar hutan,
panggung harus dihiasi ornamen hutan
seperti pepohonan, bebatuan, dan lain-lain.
5. Penonton
Penonton termasuk unsur yang penting dalam suatu pementasan. Suatu pementasan tidak akan dapat berlangsung sempurna jika tidak ada penonton. Penonton biasanya menyesuaikan dengan cerita yang dimainkan dalam drama. Ada pementasan yang ditujukan untuk penonton semua usia atau hanya penonton usia tertentu, seperti anak-anak atau orang dewasa. Kesuksesan sebuah drama biasanya dapat diukur dari banyak-sedikitnya penonton.
Penonton termasuk unsur yang penting dalam suatu pementasan. Suatu pementasan tidak akan dapat berlangsung sempurna jika tidak ada penonton. Penonton biasanya menyesuaikan dengan cerita yang dimainkan dalam drama. Ada pementasan yang ditujukan untuk penonton semua usia atau hanya penonton usia tertentu, seperti anak-anak atau orang dewasa. Kesuksesan sebuah drama biasanya dapat diukur dari banyak-sedikitnya penonton.
6. Tata Rias
Tata rias adalah penataan riasan (make
up) para pemain. Orang yang bertanggung jawab terhadap tata rias adalah
penata rias. Tata rias mencakup riasan wajah para pemain agar sesuai dengan
jalan cerita. Misalnya, seorang pemain akan memeragakan tokoh orang tua, penata
rias harus menjadikan pemain tersebut tampak tua, seperti menambahkan keriput
dan kumis palsu.
7. Tata
Busana atau Kostum
Tata busana adalah penataan kostum
yang digunakan oleh pemain. Tata busana mencakup baju dan perhiasan yang akan
digunakan dalam pemain selama pementasan. Seorang pemain dapat menggunakan satu
kostum selama pementasan atau berganti-ganti sesuai adegan. Tata busana harus
mendukung cerita yang telah ditulis dalam naskah.
8. Tata Suara
Tata suara adalah penataan suara dan
musik yang digunakan dalam pementasan drama. Orang yang bertanggung jawab
terhadap tata suara adalah penata suara. Penata suara harus menentukan keras
lembutnya suara para pemain dan musik yang mengiringi pementasan. Iringan musik
harus mendukung cerita dalam drama. Misalnya, cerita sedih biasanya dibantu
dengan iringan musik seruling yang mendayu-dayu. Musik
pengiring dimainkan dibalik layar agar tidak terlihat penonton dan tidak
mengganggu para pemain drama. Kekerasan suara juga harus diatur untuk menciptakan
permainan drama yang indah.
9. Tata Lampu
Tata lampu adalah pengaturan cahaya
yang digunakan selama pementasan berlangsung. Penataan cahaya di atas panggung
harus disesuaikan dengan cerita yang diperankan oleh para tokoh. Misalnya, jika
cerita menggambarkan suasana siang, lampu memberikan sorot yang lebih terang
dari biasanya.
C.
Komponen-komponen dalam Pembelajaran
Apresiasi Drama
1. Guru
Pengajaran drama atau pengajaran sastra yang ideal
mensyaratkan adanya guru atau dosen sastra yang dapat dijadikan model, teladan,
contoh, sutradara, bagi peserta didiknya dalam hal ini yang terkait dengan
apresiasi drama. Ia dapat membaca puisi dengan baik, membaca cerpen dengan
baik, menulis karya sastra dengan baik, rajin menghadiri diskusi-diskusi satra,
pembahasan buku sastra baru, pementasan, dan seterusnya. Guru juga dapat
mengerti teknik pembelajaran drama, mau latihan drama, dan punya rasa bangga jika
dapat mementaskan drama beserta anak didiknya. Rasa bangga ini akan menjadi
motivasi utama dlam menanggulangi segala kesulitan yang dihadapi. Latihan drama memerlukan ketekunan dan
kemauan yang kuat, mengorganisasikan siswa yang beraneka ragam latar belakang,
memerlukan waktu yang panjang, energi, stamina, dan logistik yang memadai untuk
kelangsungan latihan. Seorang guru tidak hanya pandai dalam menyampaikan materi
atau teori drama saja namun juga harus mampu memberikan contoh ketika membaca
naskah, memerankan peran yang sesuai yang di naskah.
2. Peserta Didik
Peserta didik juga memiliki peran yang sangat penting
untuk menunjang tercapainya pembelajaran apresiasi drama karena peserta didik
adalah subjek utama untuk mendapatkan suatu pengetahuan atau ilmu mengenai
karya sastra (drama) yang diajarkan oleh guru dan tanpa peserta didik
pembelajaran tidak akan berlangsung. Jadi, guru dan peserta didik suatu
komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Selain itu, juga
diimbangi dengan adanya materi atau teori, metode pembelajaran yang berkenaan
dengan materi agar tujuan utama dapat tercapai. Peserta didik dapat dijadikan
sebagai pemain (aktor) dalam sebuah pementasan, dalam pembelajaran drama
peserta didik harus terlibat secara langsung agar ia mengetahui secara nyatanya
bahwa membaca naskah, membuat naskah, hingga memainkan naskah yang dibuat.
3. Metode Pembelajaran Drama
Pengajaran drama yang ideal mengandaikan dahulu dan
berpijak pada pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru atau
dosen sastra dapat menggunakan metode role playing, simulasi, dan pendekatan
kontekstual. Pembelajaran drama di sekolah dapat didesain sebagai pembelajaran
yang menyenangkan. Peserta didik akan selalu menantikan pembelajaran drama ini
karena disinilah mereka dapat mengekspresikan seluruh motif. Terlebih jika
motif itu sesuai dengan apa yang sedang peserta didik alami dan rasakan.
Misalnya, mereka sedang jatuh cinta, patah hati, dendam, bahagia, dan sebagai
berikut. Guru tinggal memanfaatkan momentum ini secara bijak. Pembelajaran
drama yang ideal mengandaikan penilaian berbasis kinerja, yakni penilaian
bagaimana bermain drama yang menyenangkan dan diikiuti latihan drama yang
kontinu dan berkesinambungan.
4. Bahan Ajar
Bahan ajar digunakan sebagai dasar pengetahuan untuk
peserta didik. Bahan ajar tidak hanya mencantumkan pengertian, ciri-ciri, dan
unsur pembangun drama. Namun seorang guru juga harus mengembangkan bahan ajar.
Misalnya, dengan memberikan pengetahuan langkah pembuatan naskah, membaca
naskah, dan bagaimana menjadi aktor yang baik serta pengetahuan lain yang
bersangkutan dengan drama.
nice, help enough.
BalasHapusnice, help enough.
BalasHapusTerimah kasih, mohon maaf background mohon diganti karna sangat tidak nyaman di mata
BalasHapus