TEATER TIKAR “MENGANCAM
KENANGAN”
Semarang, Teater Tikar, kamis
(8/10) siang dan malam menggelar sebuah pementasan drama yang mengambil tema
“Mengancam Kenangan” di Universitas PGRI Semarang. Pementasan yang mengambil
latar pada sebuah kenangan yang selalu menghantui pikiran seorang ibu yang
ditinggal suami dibawa oleh serdadu dan anak laki-laki dan perempuannya
menikah. Persetanan dengan sebuah kenangan yang mengakibatkan seorang ibu ingin
menghapus dan berdamai dengan kenangan, namun entah mengapa persetanan dengan
kenangan kini semakin menjadi-jadi, entah apa sebabnya kenangan selalu mengusik
hati dan pikiran seorang ibu yang kini hanyalah seorang diri tanpa siapa-siapa.
Hanya kekosongan, kesepian, kerinduan, dan kepiluan yang kini dirasakan oleh
ibu dan hanya dapat membayangkan ketika anaknya masih kecil yang suka bermain
lompat tali dan main-mainan tradisional lainnya bersama teman-temannya. Seorang
ibu yang hanya merenungi nasib dan hanya pagi yang dapat menyaksikan dan
merasakan betapa pedihnya yang ia rasa tanpa seorangpun yang dapat diajak
berkomunikasi, seorang ibu yang tiap harinya membersihkan teras rumah dan akan
kotor lagi dan kembali dibersihkan itu yang selalu dilakukan. Ketika mengingat
kejadian semua itu, ibu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa melihat
kedua anaknya menikah dan pergi meninggalkannya serta suaminya yang dibawa oleh
serdadu-serdadu tanpa kecupan manis darinya. Sungguh sangat miris nasib ibu,
kita sebagai anak janganlah meninggalkan ibu seorang diri, temanilah ibu dimasa
tua sampai akhir usia beliau. Karena ibu adalah segalanya dan tanpa seorang ibu
kita tidak akan seperti ini. Jadi, berbaktilah kepada ibumu maka kamu akan
sukses disegala hal baik itu berhubungan dengan karir maupun keluarga.
Pentas drama ini menarik animo masyarakat, baik mahasiswa
maupun dosen. Penonton juga ada yang datang dari luar kampus, ini menunjukan
animo untuk menonton drama yang ditulis Iruka Danishwara dan disutradarai oleh
Ibrahim Bhra anggota teater tikar. Pertujukan semakin menggelora karena
perpaduan antara tata cahaya dan tata musik yang dipegang oleh M Khoirul Nadzif
dan Dodi Rangga B. Musik memang memiliki kekuatan yang luar biasa untuk turut
membangun suasana. Tetapi keseluruhan musik menjadi begitu mencekam. Dalam
pementasan teater “Mengancam Kenangan” musik yang digunakan sangat mencekam dan
membuat bulu kuduk berdiri, suasana horor juga menjadi pilihan untuk mengisi
backsound dalam beberapa adegan. Suasana musik yang mencekam didukung oleh tata
cahaya yang senada dengan musik yang diputar akan menambah gairah horor yang
ditampilkan. Penataan lampu yang lemah, yang hanya mengandalkan beberapa lampu
pijar biasa akan menyulitkan semua bagian artistik pergelaran. Tata cahaya di
dalam teater memang sangat diperhatikan, karena lampu dan penataannya sangat
berperan besar. Bayangkan bila pemain yang sudah berakting baik tidak didukung
dengan cahaya dan penataannya, maka akting tersebut tidak akan sampai kepada
penonton. Penataan lampu dengan warna-warni yang tidak sesuai dan tidak tepat
akan menghasilkan efek warna yang sama sekali bertentangan dengan maksud
adegan. Maka dari itu dalam teater ini penataan cahaya dipegang oleh orang yang
sudah ahli, jadi mendapatkan hasil yang maksimal. Kostum biasanya untuk teater
jarang diperhatikan dan memakai kostum yang ada, bukan merancangnya sendiri. Tetapi
kostum untuk pagelaran kali ini ada sesuatu yang beda, penonton mengira bahwa
orang berjubah itu adalah setan, namun tidak orang berjubah itu adalah debu.
Peran sutradara dalam hal ini sangat penting: motivator
bagi aktor, problematika teknik lakon, keahlian dan teknik penyusunan karya
dramatik; berdasarkan naskah. Penyutradaraan Ibrahim kiranya dapat lebih jauh
lagi dalam penguasaannya atas naskah, blocking, dan pemeranan. Naskah adalah
sumber permasalahan utama. Dan dari situ, berdasar pemilahan-pemilahan setiap
babak, lalu dan terutama setiap adegan, maka akan di dapat bagaimana bangunan
drama itu terbangun sejak awal hingga akhir. Pada bagian akhir kelemahan
sutradara yang tak dapat menampilkan drama yang sesungguhnya, tak hanya menjadi
masalah sutradara tetapi juga aktor; akan membuat penonton kecewa, apalagi bagi
mereka yang telah mengetahui naskah drama yang ditontonnya.
Naskah drama yang ditampilkan ini sangat menarik
sebagai naskah drama bagi teater pemula tetapi juga untuk grup teater yang
serius, mengingat dramaturgi naskah yang cukup menantang dalam pelakonannya.
Lebih dari itu, drama ini juga dapat menjadi ajang pergumulan aktor. Seorang
aktor dalam melakonkan mau tak mau, suka tak suka, menyandarkan diri pada
setiap ‘teks’ yang ada; karena lebih dari itu adalah apa yang ada dibalik
kata-kata itu sendiri, yang lalu dapat menghadirkan sebuah drama.
Mahasiswa-mahasiswa yang membawakan tokoh dalam cerita
tersebut terlihat total. Penghayatan secara internal juga tidak dapat
dipisahkan dengan keterampilan tubuh yang luwes dan suara yang dapat mencapai
relung-relung hati dan pikiran penonton. Ketika aktor hadir di atas pentas,
maka aktor akan menjadi seperti watak (karakter) yang dibawakan. Di dalam
teater, umumnya aktor memiliki peran penting dan menjadi pusat perhatian
penonton. Peran ibu telah berupaya maksimal menjadi perempuan yang menjadi
tokoh utama dalam teater “Mengancam Kenangan”. Karena seorang ibu yang
ditinggalkan suaminya dan anaknya pergi, kenangan semasa ia beserta anak dan
suaminya selalu terngiang dalam pikiran dan selalu menghantuinya. Dalam hal ini
tokoh ibu ingin sekali menghapus kenangan yang telah terjadi dimasa lalu, namun
kenangan itu tetap ada dan tidak dapat dimusnahkan. Penghayatan dan permainan
Ibu tidak diragukan. Umumnya aktor-aktor sangat menghayati peran, dan dapat
mengekspresikannya dengan baik. Tetapi salah-satu penonton pementasan Mengancam
Kenangan, Heri mengatakan, pementasan tersebut sudah bagus namun sangat
disayangkan cerita yang dibawakan tidak sampai ke penonton. Karena banyak
penonton yang tidak mengerti cerita yang sebenarnya. Platik-plastik yang
digantung gunanya untuk apa? Orang-orang yang memakai jubah itu perannya
sebagai apa? Yang membuat penonton tambah tidak mengerti bagaimana alur cerita
dan bahasa yang digunakan juga sangat baku, jadi penonton hanya terdiam tapi
penuh tanda tanya mengenai isi cerita. Namun setelah dilakukan wawancara dengan
sutradaranya penonton jadi tahu akan isi cerita yang dibawakan dan plastik itu
digunakan sebagai figura serta orang yang memakai jubah itu sebagai debu.
Selain itu, penonton juga bisa menyaksikan penampilan
yang berbeda dari cerita-cerita sebelumnya sehingga menjadi sebuah tontonan
baru. Karena tema yang diambil Mengancam Kenangan. Penonton tak beranjak tetapi
memberikan komentar dan masukan setelah selesai pementasan. Suasana yang
terjadi adalah seperti sebuah sharing dalam sebuah gerakan teater. Hal ini
sangat penting karena teater bukan hanya menjadi sebuah tontonan, lalu penonton
pulang, tetapi juga terjadi dialog dengan penonton. Tradisi diskusi ini
sebenarnya untuk membangun teater agar lebih baik lagi. Komarudin, penonton
pementasan drama tersebut bertanya mengapa yang diambil tema kenangan kok tidak
masa depan atau masa sekarang. Sutradara menjawab bahwa kenangan itu tidak bisa
dihapus, kita bisa menciptakan kenangan itu namun tidak bisa untuk dimusnahkan
dan yang mempunyai kenangan itu tidak hanya manusia tetapi juga semua makhluk
hidup serta teater tikar juga sudah mempersiapkan tema pementasan baru yaitu
Mimpi dan sutradara dengan rendah hati menyatakan bahwa pergelaran ini masih
dalam “proses pembelajaran” yang masih membutuhkan kritik dan saran dari
penonton.
Kritik
dan saran tidak hanya terlontar dari beberapa mahasiswa namun juga dari dosen
UPGRIS bahwa pembawaan karakter sudah bagus, namun perlu ditingkatkan kembali
agar lebih total dalam membawakannya dan penonton juga terhipnotis dengan
penampilan yang sangat sesusai dengan karakter yang dibawakan serta cerita yang
diambil harus sampai ke penonton agar pementasan drama itu berhasil. Karena
keberhasilan dalam pementasan drama terletak pada sampainya cerita ke penonton.
Beberapa penonton secara terus terang mengatakan bahwa mereka tak dapat
menangkap apa yang diinginkan naskah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar