Rabu, 14 Oktober 2015

Ulasan Pertunjukan Teater "Mengancam Kenangan"



TEATER TIKAR “MENGANCAM KENANGAN”
Semarang, Teater Tikar, kamis (8/10) siang dan malam menggelar sebuah pementasan drama yang mengambil tema “Mengancam Kenangan” di Universitas PGRI Semarang. Pementasan yang mengambil latar pada sebuah kenangan yang selalu menghantui pikiran seorang ibu yang ditinggal suami dibawa oleh serdadu dan anak laki-laki dan perempuannya menikah. Persetanan dengan sebuah kenangan yang mengakibatkan seorang ibu ingin menghapus dan berdamai dengan kenangan, namun entah mengapa persetanan dengan kenangan kini semakin menjadi-jadi, entah apa sebabnya kenangan selalu mengusik hati dan pikiran seorang ibu yang kini hanyalah seorang diri tanpa siapa-siapa. Hanya kekosongan, kesepian, kerinduan, dan kepiluan yang kini dirasakan oleh ibu dan hanya dapat membayangkan ketika anaknya masih kecil yang suka bermain lompat tali dan main-mainan tradisional lainnya bersama teman-temannya. Seorang ibu yang hanya merenungi nasib dan hanya pagi yang dapat menyaksikan dan merasakan betapa pedihnya yang ia rasa tanpa seorangpun yang dapat diajak berkomunikasi, seorang ibu yang tiap harinya membersihkan teras rumah dan akan kotor lagi dan kembali dibersihkan itu yang selalu dilakukan. Ketika mengingat kejadian semua itu, ibu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa melihat kedua anaknya menikah dan pergi meninggalkannya serta suaminya yang dibawa oleh serdadu-serdadu tanpa kecupan manis darinya. Sungguh sangat miris nasib ibu, kita sebagai anak janganlah meninggalkan ibu seorang diri, temanilah ibu dimasa tua sampai akhir usia beliau. Karena ibu adalah segalanya dan tanpa seorang ibu kita tidak akan seperti ini. Jadi, berbaktilah kepada ibumu maka kamu akan sukses disegala hal baik itu berhubungan dengan karir maupun keluarga.
Pentas drama ini menarik animo masyarakat, baik mahasiswa maupun dosen. Penonton juga ada yang datang dari luar kampus, ini menunjukan animo untuk menonton drama yang ditulis Iruka Danishwara dan disutradarai oleh Ibrahim Bhra anggota teater tikar. Pertujukan semakin menggelora karena perpaduan antara tata cahaya dan tata musik yang dipegang oleh M Khoirul Nadzif dan Dodi Rangga B. Musik memang memiliki kekuatan yang luar biasa untuk turut membangun suasana. Tetapi keseluruhan musik menjadi begitu mencekam. Dalam pementasan teater “Mengancam Kenangan” musik yang digunakan sangat mencekam dan membuat bulu kuduk berdiri, suasana horor juga menjadi pilihan untuk mengisi backsound dalam beberapa adegan. Suasana musik yang mencekam didukung oleh tata cahaya yang senada dengan musik yang diputar akan menambah gairah horor yang ditampilkan. Penataan lampu yang lemah, yang hanya mengandalkan beberapa lampu pijar biasa akan menyulitkan semua bagian artistik pergelaran. Tata cahaya di dalam teater memang sangat diperhatikan, karena lampu dan penataannya sangat berperan besar. Bayangkan bila pemain yang sudah berakting baik tidak didukung dengan cahaya dan penataannya, maka akting tersebut tidak akan sampai kepada penonton. Penataan lampu dengan warna-warni yang tidak sesuai dan tidak tepat akan menghasilkan efek warna yang sama sekali bertentangan dengan maksud adegan. Maka dari itu dalam teater ini penataan cahaya dipegang oleh orang yang sudah ahli, jadi mendapatkan hasil yang maksimal. Kostum biasanya untuk teater jarang diperhatikan dan memakai kostum yang ada, bukan merancangnya sendiri. Tetapi kostum untuk pagelaran kali ini ada sesuatu yang beda, penonton mengira bahwa orang berjubah itu adalah setan, namun tidak orang berjubah itu adalah debu.
Peran sutradara dalam hal ini sangat penting: motivator bagi aktor, problematika teknik lakon, keahlian dan teknik penyusunan karya dramatik; berdasarkan naskah. Penyutradaraan Ibrahim kiranya dapat lebih jauh lagi dalam penguasaannya atas naskah, blocking, dan pemeranan. Naskah adalah sumber permasalahan utama. Dan dari situ, berdasar pemilahan-pemilahan setiap babak, lalu dan terutama setiap adegan, maka akan di dapat bagaimana bangunan drama itu terbangun sejak awal hingga akhir. Pada bagian akhir kelemahan sutradara yang tak dapat menampilkan drama yang sesungguhnya, tak hanya menjadi masalah sutradara tetapi juga aktor; akan membuat penonton kecewa, apalagi bagi mereka yang telah mengetahui naskah drama yang ditontonnya.
Naskah drama yang ditampilkan ini sangat menarik sebagai naskah drama bagi teater pemula tetapi juga untuk grup teater yang serius, mengingat dramaturgi naskah yang cukup menantang dalam pelakonannya. Lebih dari itu, drama ini juga dapat menjadi ajang pergumulan aktor. Seorang aktor dalam melakonkan mau tak mau, suka tak suka, menyandarkan diri pada setiap ‘teks’ yang ada; karena lebih dari itu adalah apa yang ada dibalik kata-kata itu sendiri, yang lalu dapat menghadirkan sebuah drama.
Mahasiswa-mahasiswa yang membawakan tokoh dalam cerita tersebut terlihat total. Penghayatan secara internal juga tidak dapat dipisahkan dengan keterampilan tubuh yang luwes dan suara yang dapat mencapai relung-relung hati dan pikiran penonton. Ketika aktor hadir di atas pentas, maka aktor akan menjadi seperti watak (karakter) yang dibawakan. Di dalam teater, umumnya aktor memiliki peran penting dan menjadi pusat perhatian penonton. Peran ibu telah berupaya maksimal menjadi perempuan yang menjadi tokoh utama dalam teater “Mengancam Kenangan”. Karena seorang ibu yang ditinggalkan suaminya dan anaknya pergi, kenangan semasa ia beserta anak dan suaminya selalu terngiang dalam pikiran dan selalu menghantuinya. Dalam hal ini tokoh ibu ingin sekali menghapus kenangan yang telah terjadi dimasa lalu, namun kenangan itu tetap ada dan tidak dapat dimusnahkan. Penghayatan dan permainan Ibu tidak diragukan. Umumnya aktor-aktor sangat menghayati peran, dan dapat mengekspresikannya dengan baik. Tetapi salah-satu penonton pementasan Mengancam Kenangan, Heri mengatakan, pementasan tersebut sudah bagus namun sangat disayangkan cerita yang dibawakan tidak sampai ke penonton. Karena banyak penonton yang tidak mengerti cerita yang sebenarnya. Platik-plastik yang digantung gunanya untuk apa? Orang-orang yang memakai jubah itu perannya sebagai apa? Yang membuat penonton tambah tidak mengerti bagaimana alur cerita dan bahasa yang digunakan juga sangat baku, jadi penonton hanya terdiam tapi penuh tanda tanya mengenai isi cerita. Namun setelah dilakukan wawancara dengan sutradaranya penonton jadi tahu akan isi cerita yang dibawakan dan plastik itu digunakan sebagai figura serta orang yang memakai jubah itu sebagai debu.
Selain itu, penonton juga bisa menyaksikan penampilan yang berbeda dari cerita-cerita sebelumnya sehingga menjadi sebuah tontonan baru. Karena tema yang diambil Mengancam Kenangan. Penonton tak beranjak tetapi memberikan komentar dan masukan setelah selesai pementasan. Suasana yang terjadi adalah seperti sebuah sharing dalam sebuah gerakan teater. Hal ini sangat penting karena teater bukan hanya menjadi sebuah tontonan, lalu penonton pulang, tetapi juga terjadi dialog dengan penonton. Tradisi diskusi ini sebenarnya untuk membangun teater agar lebih baik lagi. Komarudin, penonton pementasan drama tersebut bertanya mengapa yang diambil tema kenangan kok tidak masa depan atau masa sekarang. Sutradara menjawab bahwa kenangan itu tidak bisa dihapus, kita bisa menciptakan kenangan itu namun tidak bisa untuk dimusnahkan dan yang mempunyai kenangan itu tidak hanya manusia tetapi juga semua makhluk hidup serta teater tikar juga sudah mempersiapkan tema pementasan baru yaitu Mimpi dan sutradara dengan rendah hati menyatakan bahwa pergelaran ini masih dalam “proses pembelajaran” yang masih membutuhkan kritik dan saran dari penonton.
Kritik dan saran tidak hanya terlontar dari beberapa mahasiswa namun juga dari dosen UPGRIS bahwa pembawaan karakter sudah bagus, namun perlu ditingkatkan kembali agar lebih total dalam membawakannya dan penonton juga terhipnotis dengan penampilan yang sangat sesusai dengan karakter yang dibawakan serta cerita yang diambil harus sampai ke penonton agar pementasan drama itu berhasil. Karena keberhasilan dalam pementasan drama terletak pada sampainya cerita ke penonton. Beberapa penonton secara terus terang mengatakan bahwa mereka tak dapat menangkap apa yang diinginkan naskah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar